Desember 27, 2011

Generasi Muslim di Timor Leste

     Dengan populasi hanya 0.3 persen nasib Muslim Timor Leste sangat memprihatinkan. Presiden Centro Da Communidade Islamica de Timor Leste Arif Abdullah Sagran mengungkapkan bahwa populasi yang kecil menyebabkan anak-anak yang beragama Islam kesulitan mendapatkan pendidikan agama yang memadai.

    “Saya tak tahu bagaimana nasib umat Islam 20 tahun mendatang di Timor Leste jika kondisinya tetap seperti ini karena sejak TK mereka hidup di lingkungan non muslim dan sudah diajari berdoa dengan agama lain di sekolah” tuturnya.

    Upaya untuk mengajarkan agama kepada generasi muda telah diusahakan dengan membuat TK Islam yang bisa mengajarkan nilai-nilai agama. Namun ini tentu saja belum mencukupi. Kerusuhan yang melanda Dili beberapa waktu lalu juga memaksa 2 orang dai yang datang dari Indonesia pulang kampung dan tidak mau balik lagi. 

    Ia mengaku telah berusaha untuk meminta bantuan dari beberapa ormas di Indonesia untuk berdakwah kepada umat Islam disana. “Banyak orang Islam yang lebih suka tinggal di Indonesia dan tak mau balik lagi ke Timor Leste. Makanya kita terus berusaha untuk membentuk jaringan untuk kepentingan umat Islam disana,” tandasnya dalam acara World Peace Forum di Jakarta, Selasa

 Sebenarnya pemerintah Timor Leste sendiri tidak melakukan diskriminasi terhadap agama. Semua agama diperlakukan sama, bahkan meskipun minoritas pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, dijadikan hari libur nasional. “Saya selalu pidato di TV nasional setiap Idul Fitri,” tuturnya.

   Meskipun sebagai negara sekuler, untuk beberapa urusan, pemerintah Timor Leste masih melibatkan institusi agama seperti dalam pengurusah KTP dan nikah yang mengharuskan mereka mendapatkan surat rekomendasi dari organisasi agama.

   Selesaikan Masalah Sendiri

    Lulusan program pasca sarjana di salah satu universitas di Indonesia tersebut berpendapat bahwa permasalahan yang dialami oleh rakyat Timor Leste hanya bisa diselesaikan oleh mereka sendiri. “Jangan percaya orang asing bisa mengatasi masalah dan menganggap mereka sebagai manusia super,” tuturnya

    Keberadaan staff PBB di Timor Leste selain berusaha untuk memperbaiki kondisi Timor Leste diakuinya menimbulkan masalah seperti adanya kesenjangan sosial. Walaupun kemampuannya biasa-biasa saja, karena atas nama PBB mereka digaji sampai 12.000 dolar Amerika dan untuk relawannya saja digaji sampai 4000 dolar, sementara pejabat tinggi pemerintah saja hanya digaji 200 dolar. “Mereka juga tidak mau membeli produk rakyat Timor Leste dan selalu mengimpor barang dari luar untuk kebutuhannya,” tambahnya. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar